Ketika Teknologi Mengancam Identitas Budaya
Sudah menjadi rahasia publik bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang kaya akan budaya. Budaya menjadi salah satu aspek yang paling dijunjung tinggi di negeri ini. Hal ini dikarenakan banyaknya suku dan budaya yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Dari sisi bahasa saja, Indonesia memiliki hampir 750 bahasa. Selain itu, ada pula kesenian-kesenian seperti tarian, ornamen, motif kain, alat musik, cerita rakyat, musik dan lagu, makanan dan minuman, pertunjukan, arsitektur, permainan, dsb. Untuk itu, tidak heran bahwa Bhinneka Tunggal Ika menjadi semboyan kita.
Hadirnya teknologi di tengah masyarakat memang memiliki banyak nilai positif. Namun ketika teknologi hadir saat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan dan tujuan utama teknologi masih minim, maka nilai positif itu bisa hilang bahkan berubah menjadi negatif. Beberapa tahun yang lalu kita melihat anak-anak riang bermain permainan-permainan tradisional seperti yoyo, egrang, bakiak, dll. Permainan-permainan ini sudah lama tersebar di Indonesia, namun sayangnya eksistensi permainan-permainan ini dikalahkan oleh permainan-permainan yang time-consuming dan minim manfaat seperti PlayStation, Game Smartphone, dll yang mana bisa dikatakan baru hadir di antara kita selama kurang lebih 2 dekade. Permainan-permainan generasi ini memang merupakan produk dari perusahaan-perusahaan game yang saling bersaing. Sehingga semakin banyak pemain makan semakin banyak juga keuntungan yang didapat oleh perusahaan. Maka dari itu perusahaan akan berusaha untuk menyebarkan konten adiktif pada permainan mereka.
Selain permainan, kebebasan yang diberikan orang tua kepada anaknya juga perlu diperhatikan. Karena saat ini anak yang masih jauh di bawah umur saja sudah banyak yang dibekali smartphone oleh orang tuanya. Seharusnya, apabila orang tua telah mengambil tindakan untuk membekali anaknya dengan smartphone maka orang tua juga harus bertanggung jawab untuk mengawasi dan memberikan pengajaran terkait batasan-batasan yang perlu diperhatikan saat menggunakan smartphone. Mirisnya, fakta yang ada banyak membuktikan bahwa banyak orang tua yang juga “sibuk sendiri” dengan kegiatan mereka sehingga aktivitas anak saat menggunakan smartphone menjadi tidak terkontrol dan dapat mengurangi kesadaran anak terhadap lingkungan sekitar.
Saat ini sudah banyak nilai-nilai budaya yang sudah mulai terlupakan. Contohnya seperti keroncong, kuda lumping, jipeng, dll. Kita sebagai bangsa Indonesia seharusnya bangga karena mempunyai budaya yang beragam. Jangan sampai nilai-nilai budaya kita terlupakan apalagi sampai punah. Kita juga seharusnya bisa menyaring kemajuan-kemajuan yang di hasilkan oleh era globalisasi ini agar tidak terjerumus kedalam pengaruh negatif yang muncul baik secara langsung maupun tidak langsung di era ini.
Saat ini pemerintah sedang berusaha untuk menyediakan koneksi internet yang memadai bagi seluruh wilayah di Indonesia. Salah satu proyek infrastruktur telekomunikasi adalah Palapa Ring. Proyek ini berupaya untuk membangun serat optik di seluruh Indonesia sepanjang 36,000. Berdasarkan keterangan Kominfo, proyek Palapa Ring terdiri dari 7 lingkar kecil serat optik (untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Maluku) yang saling terhubung.
Proyek Palapa Ring ditargetkan selesai pada Juni 2019. Namun, terlepas dari layanan jaringan internet yang ditawarkan, hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesiapan dari pengguna layanan ini. Berdasarkan data dari Google trends, sampai akhir 2018 kemarin pengguna internet di wilayah Papua paling banyak menggunakan layanan mesin pencari Google untuk mencari angka togel atau situs perjudian. Sementara di beberapa wilayah Indonesia timur lainnya, Google paling banyak digunakan untuk mencari dan men-download video atau lagu secara ilegal. Perlu di ketahui bahwa pada saat itu progres dari proyek Palapa Ring di Indonesia bagian Timur belum menyentuh angka 80%, namun layanan internet ini sudah disalahgunakan untuk hal-hal negatif seperti ini. Bagaimana nantinya apabila proyek ini sudah 100%?
Untuk itu, ketika ingin menerapkan sebuah teknologi kita perlu mengiringinya dengan literasi agar pengguna layanan dapat memahami esensi dari diterapkannya sebuah teknologi. Pengguna juga perlu diberikan dorongan agar dapat menjaga warisan budaya dan adat istiadat. Para pemuda tidak boleh malas dalam melestarikan budaya Indonesia. Kita juga harus dapat menyaring budaya-budaya barat karena Jika kita telah kehilangan budaya asli kita berarti kita telah kehilangan identitas nasional kita sendiri.
