Menjadi Netizen Pintar Yang Dapat Mengantisipasi Berita Hoax
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kita sedang hidup di zaman dimana teknologi menjadi salah satu teman hidup kita. Informasi yang terjadi disekitar kita dapat tersebar dalam sekejap dengan memanfaatkan teknologi yang tersebar di tengah masyarakat. Media Online kini menjadi trend yang digemari semua kalangan. Media ini dinilai dapat mempermudah penggunanya dalam melakukan kegiatan sehari-hari bahkan kursus dan bekerja pun dapat dilakukan tanpa perlu datang langsung ke tempat yang bersangkutan. Salah satu yang paling penting dalam dunia maya adalah situs-situs penyedia berita. Ketika pembaca surat kabar harus menunggu hari esok untuk mendapatkan surat kabar langganannya serta berita di TV harus menunggu jam tayangnya untuk mengetahui peristiwa yang sedang terjadi di tengah masyarakat, situs-situs penyedia berita dapat langsung menyajikan konten mereka tanpa perlu menunggu lama. Ini tentunya menjadi trend positif bagi masyarakat, namun dibalik itu ada pihak yang menyebar informasi tidak valid (hoax). Dengan adanya informasi-informasi seperti ini, banyak netizen yang terjebak dalam hoax, bahkan secara tidak sadar ada yang sudah membagikan informasi hoax tersebut kepada individu-individu lain sehingga menambah angka korban informasi hoax.
Dikutip dari kompasiana.com, Hoax sendiri memiliki definisi yaitu sebagai suatu berita atau pernyataan yang memiliki informasi yang tidak valid atau berita palsu yang tidak memiliki kepastian yang sengaja disebar luaskan untuk membuat keadaan menjadi heboh dan menimbulkan ketakutan. Tak sedikit pula pihak yang menyebar hoax dengan mengatasnamakan agama tertentu agar penganutnya menjadi bahagia saat mendengar informasi-informasi tersebut. Niat dari perbuatan ini memang mulia, akan tetapi proses yang dilakukan salah. Mantan rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Komarudin Hidayat mengatakan, hoax merupakan tindakan kriminal di wilayah cyber. Hoax disebut hadir dari sikap mental yang mengesampingkan integritas, terutama hoax yang muncul mengatasnamakan agama. Saya pribadi pernah disuguhkan berita terkait sebuah klub sepak bola raksasa asal Jerman, Bayern Muenchen, yang telah mendirikan masjid di dalam stadion mereka. Sungguh bahagia saat membaca headline berita tersebut. Namun rasa penasaran saya timbul, saya kemudian mencoba untuk menggali lebih dalam tentang berita ini. Belakangan saya ketahui, klub tersebut ternyata belum membuat masjid di dalam stadionnya dan gambar masjid yang dilampirkan dalam berita yang saya baca tadi adalah masjid di salah satu kota di Jerman. Ada rasa kecewa dalam diri saya, bagaimana dengan kasus-kasus serupa lainnya? bagaimana mereka bisa tega membahagiakan orang lain dengan informasi palsu?
Situs idntimes.com menjelaskan terdapat 8 alasan utama kenapa orang Indonesia mudah percaya hoax diantaranya adalah: Hanya membaca judul tanpa membaca isi keseluruhan dari suatu kabar; Hanya percaya pada sumber tertentu dan terlalu "mengagungkan" sumber tersebut;Tidak mempercayai sumber lain yang dianggap berbeda golongan atau dianggap tidak sependapat;Sebagian besar orang Indonesia masih belum bisa membedakan antara satir dengan hoax;Ketika ada kabar yang mewakili perasaan saat itu, mayoritas orang Indonesia akan langsung membagikannya;Kebanyakan orang Indonesia membenarkan suatu kabar berdasarkan tingkat keseringan mereka melihat kabar itu muncul di linimasa media sosial;Kebanyakan orang Indonesia merasa enggan untuk mencari kebenaran berita dan melakukan verifikasi ulang, beberapa bahkan tidak mengetahui caranya;Sebuah ajakan semacam "share = berpahala", "like = amin" atau "komentar = membantu" sudah cukup membuat banyak orang Indonesia percaya dengan berita yang disebarkan.
Agar kita tidak terjerumus kedalam berita hoax lebih jauh, ada perlunya kita mempelajari bagaimana cara menilai berita yang kemungkinan adalah hoax. Menurut saya, hal yang paling mudah untuk mengantisipasi berita hoax adalah dengan mencari perbandingan dari berita tersebut. Sebagaimana yang dikutip oleh kumparan.com, Saat membaca suatu berita, pastikan bahwa informasi itu tidak hanya berasal dari satu situs saja. Perhatikan situs media terpercaya lainnya. Bila informasi itu hanya dibahas oleh satu situs saja maka kita patut mencurigainya. Sebab, bila suatu kabar cukup heboh dan diklaim sebagai peristiwa besar pastinya media-media mainstream atau media umum terpercaya ikut membahasnya. Untuk itu jangan mudah membagikan informasi yang belum tentu benar. Pastikan terlebih dahulu sebelum kita melakukannya karena apabila kita sudah terjebak, maka tanpa sadar kita sudah menjebak para pembaca lain.
